Pentas Drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran”, Hisdagra, Sutradara Ari Kpin: KOBARAN DENDAM DI PADEPOKAN GARUT
Pentas Drama “Hutbah Munggaran di
Pajajaran”, Hisdagra, Sutradara Ari Kpin:
KOBARAN
DENDAM DI PADEPOKAN
GARUT
Oleh: Muhammad Tegar Yulianza
Salah satu adegan di pentas drama Hutbah Munggaran di Pajajaran
Jagat Pentas Padepokan
Sobarnas Martawijaya Garut menjadi
sebuah ruang bagi ide-ide dan kreativitas untuk berontak keluar menyapa seni
yang telah terpenjara selama covid ada. Selama tiga hari dari tanggal 24-26
oktober, ide dan kreativitas itu memuntahkan semua keresahnnya. Melalui dendam
Djaya Antea kepada Padjajaran yang telah mengusirnya.
Djaya Antea yang sangat
ingin mempersunting Nyi Purnamasari sebagai putri Padjajaran harus terusir
karena sikapnya yang Padjajaran anggap sebagai bentuk pengkhianatan. Merasa
sakit hati, Djaya Antea pun bertekad untuk membalas dendamnya dengan cara
menghancurkan Padjajaran. Untuk memuluskan rencananya itu, Djaya Antea
bersekongkol dengan Putra Padjajaran yakni Kian Santang Aria Cakrabuana yang
sebelumnya telah lebih dulu pergi meninggalkan Padjajaran untuk pergi ke tanah
suci. Mengetahui Kian Santang telah pulang, Djaya Antea pun menyelundupkan misi
tersembunyi yang berbeda dengan misi dari Kian Santang. Akan tetapi, misi
tersembunyi Djaya Antea pun diketahui oleh Kian Santang yang merasa ada yang
berkhianat padanya setelah mengetahui Padjajaran terbakar. Tentu itu ialah
kebalikan dari misi Kian Santang yang tidak ingin menghancurkan Pafdjajaran.
Hingga akhirnya ia pun mengetahui bahwa pengkhianat itu ialah Djaya Antea. Dan
Kian Santang berhasil menangkap Djaya Antea.
Itulah gambaran singkat
awal mula dari cerita drama musikal Hutbah Munggaran di Pajajaran yang
terselenggara hasil kerja sama antara Komunitas Budaya Posstheatron Garut
(KBPG) bersama Himpunan Sastrawan Dramawan Garut (HISDRAGA) dengan didukung
oleh Pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Kebudayaan Kab.Garut
dan didukung juga oleh Pemerintah dengan program Fasilatasi Bidang Kebudayaan
(FBK) Tahap I 2020 Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan
Kubudayaan RI selaku pemberi hibah.
Keberhasilan dari
berlangsungnya pementasan itu tidak lain karena keberhasilan kerja sama yang
dibangun antar pemain dan juga yang menaunginya. Terutama di dalam sebuah
pementasan, tentu peran sutradara dan penulis naskahlah yang paling disorot.
Karena kedua peran tersebut memegang peran vital yakni sebagai pembuat dan
pengeksekusi cerita. Maka sudah sepatutnya kedua peran itu yang paling disorot
di dalam pementasan.
Dalam pementasan ini, sutradara
yang berhasil mementaskan Hutbah Munggaran di Padjajaran itu ialah Ari Kpin. Ia
adalah seorang tokoh yang dikenal begitu dekat dengan hal-hal yang berbau seni
terutama dengan puisi. Musikalisasi puisi begitu melekat padanya, sehingga hal
itu sudah seperti personal branding-nya.
Walau begitu, ia tak hanya menggeluti musikalisasi puisi saja. Tercatat ia
telah menyutradarai beberapa drama seperti drama "Delapan Terdakwa"
dan "Priangan Si Jelita".
Selain dari sutradara,
keberhasilan pementasan itu pun tak lain karena menariknya cerita yang ditulis
oleh seorang penulis naskah yang ada dibaliknya. Prof. Yus Rusyana ialah orang
yang bertanggung jawab atas berhasilnya kemenarikan cerita tersebut. Namanya
sudah tak asing di bidang sastra terutama di bidang sastra sunda. Karya-karya
yang ia terbitkan pun dapat dikatakan monumental dan telah dikenal hingga
dipelajari oleh para akademisi. Maka tak heran nampaknya bila cerita yang
ditampilkan begitu sangat menarik perhatian untuk ditonton.
Pentas Hutbah Munggaran
di Pajajaran merupakan sebuah pentas drama musikal yang terselenggara di saat
situasi sedang pandemi. Dengan memerhatikan protokol kesehatan, pentas tersebut
disaksikan oleh beberapa orang. Hal itu dapat dilihat dari video yang diunggah
oleh komunitas tersebut di dalam akun youtube-nya, orang-orang yang menyaksikan
pementasan itu menggunakan masker sebagai salah satu bentuk taat kepada aturan
pemerintah mengenai protokol kesehatan. Sehingga pementasan tersebut dapat
dikatakan telah mengikuti protokol kesehatan.
Selain itu, agar
orang-orang mengetahui dan dapat menikmati pentas tersebut, pihak panitia pun
mengunggah pentasnya tersebut ke dalam Youtube. Mengunggah pentas ke dalam
Youtube merupakan sebuah ide bagus yang memungkinkan orang lain yang tidak
berada ada di tempat pentas dapat juga menyaksikan dan mengapresiasi pentas
itu.
Menonton pentas drama
musikal itu di youtube seperti sedang menonton film laga klasik Indonesia pada
zaman dahulu. Saat film-film Indonesia masih menjadikan kerajaan-kerajaan
sebagai tema utamanya.
Dari segi musik, pentas
tersebut begitu syahdu didengar karena musik yang digunakan ialah dominasi dari
musik tradisional. Perpaduan antara kecapi, suling, dan kendang begitu menambah
aura dari sebuah pedesaan. Selain itu, adanya kecapi, suling, dan kendang itu
pun menambah kuat gambaran mengenai latar dari cerita itu berada. Seperti yang
diketahui bahwa alat music kecapi, suling, dan kendang identik dengan musik
sunda sehingga begitu musik itu didengar, tanpa diberi tahu secara eksplisit
latar tempat cerita itu berada, orang-orang sudah pasti tahu bahwa latar cerita
itu ialah di daerah-daerah sunda.
Ditambah dengan lighting yang cukup ciamik dengan
kedetilan warna yang mengisyaratkan latar waktu menambah kesan estetik dari
pentas drama itu. Singkatnya seperti musik yang menggambarkan mengenai latar
tempat, kedetilan warna yang ditampilkan di pentas itu menggambarkan latar
waktu, seperti pagi, siang, sore, dan malam. Selain itu efek dari kedetilan
warna itu pun secara tidak langsung memunculkan aura-aura yang dapat dirasakan
oleh penonton.
Di pentas tersebut,
terdapat pemeran-pemeran senior yang sudah berpengalaman dalam hal mentas
mementas dan juga para pemeran muda yang mungkin belum memiliki pengalaman yang
begitu banyak dibandingkan dengan para pemeran senior itu. Sehingga perbedaan
itu memperlihatkan setidaknya kualitas dari para pemeran. Di dalam pentas
terlihat pemeran muda masih sedikit kaku dan terlihat ‘memaksa’ ketika
bersanding dengan para pemeran senior yang terlihat lebih alami dalam gesture-nya. Selain itu, para pemeran senior pun terdengar memiliki suara yang
lebih menggema dibandingkan dengan para pemeran muda yang suaranya masih
‘cempreng’.
Selain itu, para anak
muda yang kebanyakan menjadi prajurit, tidak memperlihatkan totalitasnya
sebagai prajurit. Karena dilihat segi penampilan fisik, terutama dari ‘gaya’
rambut, memunculkan kesan bahwa itu ialah kerajaan modern bukan kerajaan klasik
Pajajaran dulu. Rambut mereka yang gondrong dan ‘stylish’ tidak memperlihatkan
mereka berada di zaman klasik, tapi rambut itu memunculkan kesan modernitas
zaman sekarang. Untungnya, itu hanya terlihat di prajurit pajajaran saja,
karena untuk prajurit dari kian santang terbantu oleh penutup kepala yang
mereka pakai. Walau begitu, hal itu bukanlah permasalahan yang besar. Karena
ada atau tidaknya hal itu, tidak mengubah kualitas pementasan secara
keseluruhan.
Secara cerita,
pementasan itu seperti menampilkan sebuah sejarah yang diambil dari berbagai
naskah atau sumber yang kemudian divisualisasikan. Sehingga pementasan itu
secara tak langsung memberikan pengetahuan dalam hal ini mengenai Padjajaran
dengan cara menggambarkan perkiraan kronologis sejarah itu berjalan. Sehingga
hal itu dapat membuat penonton lebih mudah dalam mengetahui sejarah Padjajaran.
Selain itu, penggunaan
bahasa sunda kuno dalam percakapan di pementasan pun turut menambah pengetahuan
masyarakat khususnya anak-anak muda bersuku sunda. Karena bahasa sunda kuno
yang digunakan di dalam pementasan itu mungkin akan terdengar asing bagi
sebagian orang khususnya orang-orang kota yang saat ini mulai meninggalkan
bahasa sunda. Dengan begitu adanya bahasa sunda kuno di pementasan itu secara
tak langsung menandakan peringatan dan juga tamparan bagi anak-anak muda untuk
selalu menjaga bahasa daerahnya.
Oleh
karena itu, pementasan Hutbah Munggaran di Padjajaran itu memiliki banyak
kelebihan dibandingkan dengan kekurangan yang ada. Selain itu, kelebihan yang
ada dalam pementasan itu pun sifatnya lebih ke konteks dan kedalaman makna
berbeda dengan kekurangan yang dimilikinya yang sifatnya lebih ke teknis atau
luaran saja. Maka dari pernyataan itu semua, pementasan ini dapat dikatakan
sudah lebih dari bagus dan layak diapresiasi dari berbagai aspek secara
keseluruhan.
Sae pisannn
BalasHapusSiaaaaap
BalasHapus