Postingan

3 am

Aku tak menyalahkanmu, tak menyalahkan siapa-siapa. Tuhan yang mengutusku di antara kamu, entah untuk apa. Tak ada penyesalan diri dalam hidup yang sudah kulalui. Aku tetap bangga ada di antara kalian. Mungkin kamu pun tak menginginkan itu. Mungkin kamu pun ingin seperti yang lain, memperlakukanku layaknya seorang putra mahkota. Namun, kamu tak bisa memaksakan diri, kamu memilih kebaikan sebagai jalan. Di hatimu kumelihat maaf. Air mata mengendap dalam-dalam. Kamu menyesali itu, tapi kamu tak ingin terlarut dalam sendu.  Kamu mengharapkanku untuk tumbuh besar dalam keterbatasan. Di saat yang lain tumbuh besar dalam kemewahan. Sebagai bekalku, kamu selalu menitipkan kejujuran dan kebaikan. Kamu selalu mewantikan untuk menjaga hati dan raga siapa pun. Tolong siapa pun yang datang padaku dan bantu sebisa yang kumampu. Karakter, iya. Itu yang kamu simpan di dalam tubuhku sehingga aku bisa melihat kelebihanku di dalam diri orang lain. Namun, sepertinya karakter itu tak penting. Tak ada ...

Malam di Bandung

Oy, apa kabar? Lama tak jumpa bukan? Bagaimana di sana? Sehat-sehat, kah? Kutahu selatan Jawa Barat itu dingin, tapi kuharap kau tak kedinginan ya. Mungkin juga di sana kau bersentuhan dengan panas, tapi semoga kau tak kepanasan. Ya, aku hanya ingin bercerita sedikit saja kita, tepatnya tentang Bandung kota.   Kau bilang, Bandung kota yang indah. Ya, aku pun mengamini itu. Sehingga kau tak malu ‘tuk bilang bahwa kau suka Bandung. Kurasa aku juga. Aku menyukainya dan ingin berada di sana. Namun, kau tahu, meski begitu aku tak tahu apakah aku dapat bertemu lagi dengan Bandung atau tidak? Doakan saja semoga aku dapat tetap berada di sana. Pandemi ya? Aku kesal dengannya. Dia yang membuatku marah karena telah membuatku jauh dari Bandung. Dia juga yang telah memangkas cerita sehingga aku kehilangan dua tahun ceritaku di Bandung. Tiba-tiba saja aku sudah berada di ujung tahun sekarang, tapi aku kurang menikmatinya. Bukan saja soal itu, tapi juga soal kau. Pandemi membuatku jauh dar...

Keluh Kesah Mahasiswa Universitas Online

  Keluh Kesah Mahasiswa Universitas Online Sebentar, sebelum ke situ, ambil nafas dulu. Sabar, emosi nih. Gara-gara covid lagi. Tepatnya, berkaitan sih. Lebih tepatnya lagi, dampak dari covid. Begitulah, pusing, kan?   Jadi begini, sudah berapa lama kita belajar secara online? Ada kali mau masuk 2 tahun, ya, kan? Terhitunglah sudah 2 angkatan lulus online kok atau bahkan 3 angkatan? Entahlah, lupa. Saking lamanya. Jadi apa sih masalahnya kawan? Kok ngelantur gitu? Online kan enak? Bisa kuliah sambil rebahan, gak harus mandi juga, pake atasan rapih dan bawahan kolor pun tak masalah tuh. Jadi apa? Kenapa? Wes… Wes… Sabar. Jangan emosi. Kalem. Suruput kopi dulu. Emang sih kuliah online itu enak, banyak manfaatnya pula. Seriusan. Asal bisa dimanfaatin dengan bener, itu kuliah online banyak manfaatnya. Kayak misal nih, karena online, kamu bisa tuh kuliah sambil kerja karena kan emang fleksibel ya waktunya, bisa disesuaikan gitu. Asal pas kebagian presentasi, kamu bisa tam...

Ngedumelin Covid

Ngedumelin Covid Sebenarnya agak males sih bahas ini. Tapi karena gabut, akhirnya yaudahlah: nulis aja. Sambil sedikit beropini di negeri yang demokrasi. Bolehkan ya? Ya kali gak boleh. Insyaallah aman, gak akan ada ninuninu. Jadi begini, covid bila disamakan dengan seorang manusia, mungkin saat ini sudah menjadi seorang bayi yang baru bisa berkata ‘mama, mama’ atau ‘papa, papa’. Iya dong? Satu setengah tahun kan? Sejak desember 2019 hingga tulisan ini dibuat pada bulan juni 2021. Gila, covid udah gede ya? Selama itu juga orang-orang yang positif covid semakin bertambah. Dari yang awalnya 1 orang, di Indonesia, sekarang udah hampir tembus 2 juta orang aja. Gila, gila, udah hampir setara populasi negara Gabon. Itu baru yang kedeteksi, belum lagi yang gak kedeteksi. Beuh, makin bejibun aja. Yakin cuma hampir 2 juta? Sepertinya tidak. Di saat negara lain udah mulai lepas masker dan berkerumun, seperti piala eropah noh, di Indonesia masih aja sibuk saling nyalahin, yang paling gokil ...

Pentas Drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran”, Hisdagra, Sutradara Ari Kpin: KOBARAN DENDAM DI PADEPOKAN GARUT

Gambar
  Pentas Drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran”, Hisdagra, Sutradara Ari Kpin: KOBAR AN DENDAM DI P ADEPOKAN GARUT Oleh: Muhammad Tegar Yulianza Salah satu adegan di pentas drama Hutbah Munggaran di Pajajaran Jagat Pentas Padepokan Sobarnas Martawijaya Garut menjadi sebuah ruang bagi ide-ide dan kreativitas untuk berontak keluar menyapa seni yang telah terpenjara selama covid ada. Selama tiga hari dari tanggal 24-26 oktober, ide dan kreativitas itu memuntahkan semua keresahnnya. Melalui dendam Djaya Antea kepada Padjajaran yang telah mengusirnya. Djaya Antea yang sangat ingin mempersunting Nyi Purnamasari sebagai putri Padjajaran harus terusir karena sikapnya yang Padjajaran anggap sebagai bentuk pengkhianatan. Merasa sakit hati, Djaya Antea pun bertekad untuk membalas dendamnya dengan cara menghancurkan Padjajaran. Untuk memuluskan rencananya itu, Djaya Antea bersekongkol dengan Putra Padjajaran yakni Kian Santang Aria Ca...

MATINYA SEORANG JURNALIS

  MATINYA SEORANG JURNALIS Aku semakin mengencangkan gas motorku. Mengejar waktu menuju tempat kejadian adanya pembunuhan. Setelah beberapa menit yang lalu aku mendapat kabar bahwa di sekitar tempatku, baru saja ditemukan sebuah mayat yang tergeletak dengan darah yang masih tercium segar. Kata temanku, kejadian itu adalah sebuah pembunuhan membabi buta. Bagaimana tidak, pelaku membunuh korban pada siang hari dan di saat jalan sedang penuh dengan keramaian. Meski orang-orang sedang lalu-lalang, anehnya tak ada seorang pun yang melihat pelaku pergi ke arah mana. Tak tahu pula pelaku itu berlari atau menaiki kendaraan. Tak ada satu orang pun yang sempat memotret wajah pelaku meski orang berbondong-bondong memotret wajah korban yang penuh dengan darah. Motorku semakin kencang, jarum spidometer motorku menyentuh angka 80 km/jam. Sungguh cepat karena aku tak mau lagi tertinggal momentum setelah sebelumnya aku kalah cepat oleh temanku saat meliput sehingga ketika kukirimkan tulisan ke...