3 am

Aku tak menyalahkanmu, tak menyalahkan siapa-siapa. Tuhan yang mengutusku di antara kamu, entah untuk apa. Tak ada penyesalan diri dalam hidup yang sudah kulalui. Aku tetap bangga ada di antara kalian.

Mungkin kamu pun tak menginginkan itu. Mungkin kamu pun ingin seperti yang lain, memperlakukanku layaknya seorang putra mahkota. Namun, kamu tak bisa memaksakan diri, kamu memilih kebaikan sebagai jalan.

Di hatimu kumelihat maaf. Air mata mengendap dalam-dalam. Kamu menyesali itu, tapi kamu tak ingin terlarut dalam sendu. 

Kamu mengharapkanku untuk tumbuh besar dalam keterbatasan. Di saat yang lain tumbuh besar dalam kemewahan. Sebagai bekalku, kamu selalu menitipkan kejujuran dan kebaikan. Kamu selalu mewantikan untuk menjaga hati dan raga siapa pun. Tolong siapa pun yang datang padaku dan bantu sebisa yang kumampu.

Karakter, iya. Itu yang kamu simpan di dalam tubuhku sehingga aku bisa melihat kelebihanku di dalam diri orang lain. Namun, sepertinya karakter itu tak penting. Tak ada nilai dalam karakter. Orang-orang lebih menilai fisik, harta, dan tahta, ketimbang karakter yang tak kasat mata. Mungkin itu yang kamu tak ajarkan padaku. Entah apa alasannya. Satu hal yang kutahu, ketika kamu menempelkan kepingan-kepingan diri, kamu tak menempelkan dendam dalam tubuhku. Kamu seperti berbicara "lihatlah aku" dan aku melihatmu diinjak karena keterbatasan, tapi kamu selalu membalasnya dengan senyuman dan doa. Nampaknya, hanya segelintir saja yang akan paham dan merasakan. Dan aku menyebutnya sebagai takdir Tuhan.

Aku bangga dengan apa yang aku punya dan kamu beri. Aku akan mengubah semuanya untukmu. Dengan doamu aku berjalan menyusuri kemustahilan dan takdir Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam di Bandung

Ngedumelin Covid

Pentas Drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran”, Hisdagra, Sutradara Ari Kpin: KOBARAN DENDAM DI PADEPOKAN GARUT