MATINYA SEORANG JURNALIS

 

MATINYA SEORANG JURNALIS

Aku semakin mengencangkan gas motorku. Mengejar waktu menuju tempat kejadian adanya pembunuhan. Setelah beberapa menit yang lalu aku mendapat kabar bahwa di sekitar tempatku, baru saja ditemukan sebuah mayat yang tergeletak dengan darah yang masih tercium segar. Kata temanku, kejadian itu adalah sebuah pembunuhan membabi buta. Bagaimana tidak, pelaku membunuh korban pada siang hari dan di saat jalan sedang penuh dengan keramaian. Meski orang-orang sedang lalu-lalang, anehnya tak ada seorang pun yang melihat pelaku pergi ke arah mana. Tak tahu pula pelaku itu berlari atau menaiki kendaraan. Tak ada satu orang pun yang sempat memotret wajah pelaku meski orang berbondong-bondong memotret wajah korban yang penuh dengan darah.

Motorku semakin kencang, jarum spidometer motorku menyentuh angka 80 km/jam. Sungguh cepat karena aku tak mau lagi tertinggal momentum setelah sebelumnya aku kalah cepat oleh temanku saat meliput sehingga ketika kukirimkan tulisan kepada pimpinan, tulisanku ditolak. Bukan sekali dua kali saja aku mendapat penolakan itu. Sering. Bahkan saking seringnya, aku selalu berpikir, apakah aku pantas menjadi seorang jurnalis? Untungnya pimpinan selalu memberiku kesempatan. Akan tetapi aku tak tahu sampai kapan kesempatan itu akan selalu diberikan kepadaku.

Ada berbagai alasan yang selalu disampaikan pimpinan ketika aku mengirimkan tulisan. Tulisan kurang rapilah, tidak menariklah, basilah, hingga yang terakhir tulisan yang menurutku layak diterima oleh pimpinan mengenai pejabat istana yang ngaler-ngidul menggunakan dana seenak jidat ditolak juga. Entah, aku tak tahu alasannya dan aku tak tahu tulisan seperti apa yang harus kukirimkan lagi kepadanya.

Apa mungkin aku harus meliput tulisan tentang seorang lelaki yang mempunyai kelebihan genetik perempuan sehingga orang lain menyebutnya berkelainan, atau mungkin aku harus meliput tentang kesendirian seorang lelaki karena mencintai wanita yang telah memiliki pasangan, atau aku harus meliput tentang sepasang semut yang sedang bereproduksi di dalam cawan. Mustahil. Ngawur. Gila aku.

Sambil menatap jalan yang penuh kemacetan, aku tersenyum. Karena hari ini aku yakin tulisanku akan diterima untuk pertama kalinya. Maklum, seorang sarjana muda, penuh semangat dan cita-cita. Seorang jurnalis muda yang penuh dengan idealis.

Sampailah aku di tempat kejadian. Kagetnya aku, ketika melihat orang-orang telah berkerumun. Tua, muda, laki-laki, perempuan, jurnalis, non jurnalis semua melingkar mengerumuni korban. Polisi yang saat itu sedang bertugas dibuat kewalahan saat akan membentangkan garis polisi karena kerumunan itu.

            “Mohon menjauh, jangan terlalu dekat. Biarkan petugas melakukan tugasnya”

Terlihat para polisi yang sedang bertugas berusaha melakukan identifikasi terhadap korban. Ada juga polisi yang mengawasi kerumunan yang terus menerus mendorong agar bisa melihat wajah korban.

Tak lama kemudian, tibalah ambulan beserta tim medisnya. Tim medis tersebut segera mengangkat korban itu dengan sarung tangan khususnya ke atas tandu untuk kemudian dimasukan ke dalam ambulan.

Aku yang saat itu memperkirakan akan menjadi tercepat ternyata salah. Aku sedikit telat. Aku tiba di tempat ketika korban telah masuk ke dalam ambulan. Dan aku hanya mendapat satu gambar saja. Itu pun buram.

            “Sial, aku sial” gumam dalam hatiku

Sebenarnya bisa saja aku mengambil gambar dari sumber lain, tapi mediaku ini sangatlah ketat. Ia tak mau menerima sebuah tulisan yang hanya sekadar tulisan. Apalagi sekadar tulisan yang mengisi pertanyaan-pertanyaan apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana.

Sempat aku menanyakan itu kepada polisi yang sedang berrtugas, tapi polisi hanya bisa menjawab pertanyaan ”siapa” saja. Kecewa? Tentu, bukan main. Lagi-lagi aku gagal. Aku tahu, andai tulisanku kukirimkan, pimpinan akan menolaknya. Bahkan aku bisa mengira alasan apa yang akan diucapkannya.

“Kamu ini gimana sih, bisa tidak kamu mencari berita? Bila tidak, lebih baik mundur saja, cari pekerjaan yang lain”

Dan di situ aku tahu apa yang harus aku lakukan: Ya, menunduk. Tapi akan lebih kacau bila aku tak mengirimkan tulisan apapun, kiranya nanti aku tak kerja.

            “Oke baik” nada kecil terkesan pasrah muncul dari mulutku

Aku mencari tempat, setidaknya untuk sejenak beristirahat, meminum sekadar kopi atau bahkan air putih tak masalah bagiku karena aku memang sedang lagi kacau. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti di sebuah warung siomay yang berada di pinggir jalan di bawah pohon beringin. Di sana aku akan menulis sambil mengisi perutku yang telah kelaparan. Aku memilih meja yang ada piting listriknya agar aku dapat mengisi baterai laptopku yang kian menipis di samping lelaki tua kekar dengan tasnya yang tercecer cat merah. Aku memesan seporsi siomay beserta teh manis hangat karena cuaca hari ini terasa begitu dingin. Sambil aku menunggu pesanan tiba, aku mengambil laptopku yang kebetulan ada di dalam tas. Aku buka. Dan aku mulai menulis. Di sela-sela menulis aku selalu melirik lelaki tua itu, aku merasa bahwa aku pernah bertemu dengannya baru-baru ini. Tapi aku lupa tempatnya. Lelaki tua itu pun terlihat sesekali melirikku. Mungkin dia merasa ada yang memerhatikannya.

Tak lama kemudian pesananku sampai. Aku makan sehuap dua huap sambil jariku mengetik menyusun kata yang ada di depan layar. Meski sudah sembari memakan siomay, tapi pikiranku masih belum merasa fokus. Aku masih kecewa dengan diriku sendiri. Ditambah malam ini ada lelaki tua aneh yang juga sesekali melirikku. Aku hanya berharap dia segera pergi.

Kali ini aku merasa ada sesuatu yang beda, aku tak merasakan kesenangan dalam menulis. Aku merasa bahwa aku telah diperbudak oleh tulisan. Tapi, lagi-lagi aku berpikir positif.

            “Ya mungkin ini resiko. Sabar, sabar”

Ketika aku sedang menulis, muncul sebuah notifikasi dari HP yang kebetulan berada di samping laptopku. Kulihat sejenak pesan yang masuk dan ternyata itu dari pimpinanku. Ia memintaku untuk segera mengirimkan hasil dari liputan untuk kemudian ia kurasi untuk mencari yang layak dimuat. Benar, kurasi dibandingkan dengan tulisan orang lain. Dan bila ditolak, maka menulis akan dirasa sia-sia.

Ia mengirimkan deadline ketika aku baru saja sampai setengah baris halaman. Terhitung lama memang kali ini aku menulis. Ya, bagaimana lagi.

Segera kurampungkan tulisanku tanpa babibu. Persetan dengan penolakan pimpinan yang telah kutahu. Tak ada lagi kualitas di sana, hanya ada tulisan buruk yang tercipta karena suasana dan keadaan yang buruk juga.

            Done pak” isi pesan yang kurkirimkan

Malam semakin malam. Suasana kota mulai mendingin dan jalanan mulai menyepi. Setiap hari seperti itu, aku harus pulang ke indekos sambil membawa sebingkis makanan untuk perut yang telah kosong dan mengempis kembali.

Terlihat di pojokan kamar, baju kotor menumpuk dalam ember penuh keringat. Bau. Tapi aku tetap bisa tidur pulas bahkan dengan memakai pakaian yang kupakai saat bekerja tadi. Anak lelaki memang seperti itu, tak peduli kebersihan.

Di indekos tempatku berada, terdapat beberapa kamar yang diisi oleh beberapa orang yang berbeda profesi. Ada pedagang, karyawan toko, satpam, dan paling banyak adalah mahasiswa. Tapi dari berbagai profesi itu hanya aku yang berprofesi sebagai seorang jurnalis.

Malam ini aku harus cepat tidur karena besok pagi aku sudah harus ada di jalan, mencari berita kembali. Aku ingin sekali membalas semua kegagalanku meski hanya dengan satu pemberitaan saja.

**

Pagi ini aku sudah siap, semua alat untuk meliput sudahku bawa. Semua persediaan aman tak terkecuali makanan. Tak seperti biasanya, pagi ini tak ada pesan masuk ke dalam HP-ku, tak ada lagi informasi kejadian yang memberi tahuku. Mungkin pimpinan lelah karena kerjaku yang selalu tak sesuai keinginannya. Tapi aku tak menyerah, aku bisa mencari informasi tanpa perlu dibantu. Ketidakadaan notifikasi yang masuk ke dalam HP-ku telah terjadi dari malam sewaktu aku akan tidur hingga pagi ini ketika aku sudah siap mencari berita kembali.

Ke sana ke mari, mencari informasi sendiri. Menjelajah jalanan dan memotret setiap hal yang aku harap dapat kujadikan bahan pemberitaan. Duduk di simpang jalan di atas sebuah trotoar sambil memandangi setiap kendaraan yang menyebabkan kemacetan.

Ketika aku sedang asik duduk, aku melihat mobil polisi melaju cepat dengan sirene yang dibunyikan. Kupikir itu tanda bahaya.  Dan tak lama kemudian mobil ambulan ikut melaju, pun dengan sirenenya. Dan di belakang ambulan itu ada aku, sang jurnalis yang sedang mencari bahan pemberitaan.

Ku ikuti mobil itu melaju hingga berbelok menuju jalan yang tak sebesar jalan sebelumnya. Hingga akhirnya mobil itu sampai di sebuah tempat yang dipenuhi orang dan garis polisi.

            “Ini kesempatanku mendapat berita” gumam hatiku yang penuh semangat

Karena aku lihat di sana belum ada teman jurnalis lain yang biasanya selalu hadir cepat mengungguliku. Aku menerobos kerumunan untuk memosisikan diri menjadi yang paling depan agar dapat mengambil gambar dengan jelas. Sambil mengacung-acungkan kartu persku, aku berhasil berada di garis depan, satu jengkal di belakang garis polisi.

Aku lihat ada orang yang ditandu oleh medis, tepat melewati wajahku.

“Aku tak ingin menyia-nyiakan itu” pikirku

Hingga akhirnya aku berhasil mengambil gambar sesuai dengan yang kuinginkan.

Setelah aku berhasil mengambil gambar, teman-teman jurnalis yang lain baru tiba dan hanya bisa mendapatkan informasinya saja.

            “Yeah aku tercepat”

Harusnya tak aneh aku bisa menjadi yang tercepat kali ini, karena peristiwa itu ada di indekosku. Aku tak menyangka dapat hoki seperti ini.

Polisi yang saat itu bertugas mulai memberikan informasinya kepada teman-teman jurnalis, mulai mengenai identitas korban hingga kronologis yang begitu rinci.

            “Korban merupakan seorang jurnalis. Hal itu diketahui dari kartu persnya. Di tempat kejadian, terdapat juga sebuah tulisan yang diduga ditulis oleh korban. Tulisan itu berisi tentang prediksinya hari ini. Tulisan itu disimpan di tempat yang tidak diketahui pelaku. Sehingga ketika ditemukan, itu sangat membantu kami. Di dalam tulisan itu, disebutkan juga ada dalang di balik pembunuhannya. Ia menulis bahwa dalangnya ialah pimpinannya. Ia beralasan bahwa ia dibunuh karena pimpinannya tidak suka dengan tulisannya yang terlalu idealis serta bersebrangan dengannya. Selain itu alasan lain ia dibunuh karena korban mengetahui pelaku dan dalang di balik pembunuhan pada hari sebelumnya. Karena itu juga kita berhasil menyelesaikan kasus kemarin. Tulisannya sangat membantu. Dan dia benar-benar seorang jurnalis”

 

2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam di Bandung

Ngedumelin Covid

Pentas Drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran”, Hisdagra, Sutradara Ari Kpin: KOBARAN DENDAM DI PADEPOKAN GARUT