Malam di Bandung
Oy, apa kabar? Lama tak jumpa bukan? Bagaimana di sana? Sehat-sehat, kah? Kutahu selatan Jawa Barat itu dingin, tapi kuharap kau tak kedinginan ya. Mungkin juga di sana kau bersentuhan dengan panas, tapi semoga kau tak kepanasan. Ya, aku hanya ingin bercerita sedikit saja kita, tepatnya tentang Bandung kota.
Kau bilang, Bandung kota yang indah. Ya, aku pun mengamini itu. Sehingga kau tak malu ‘tuk bilang bahwa kau suka Bandung. Kurasa aku juga. Aku menyukainya dan ingin berada di sana. Namun, kau tahu, meski begitu aku tak tahu apakah aku dapat bertemu lagi dengan Bandung atau tidak? Doakan saja semoga aku dapat tetap berada di sana.
Pandemi ya? Aku kesal dengannya. Dia yang membuatku marah karena telah membuatku jauh dari Bandung. Dia juga yang telah memangkas cerita sehingga aku kehilangan dua tahun ceritaku di Bandung. Tiba-tiba saja aku sudah berada di ujung tahun sekarang, tapi aku kurang menikmatinya.
Bukan saja soal itu, tapi juga soal kau. Pandemi membuatku jauh darimu bukan? Ya, kau, seseorang yang harus saja didampingi oleh seorang manusia tuk berada di sampingmu. Aku kesal dengan itu. Sangat kesal. Walau akhirnya, aku mencoba untuk menebak apa maksud dan tujuanmu. Dan aku telah menemukannya. Walau mungkin salahnya besar. Ya aku akan tetap baik padamu.
Apa lagi? Masih banyak tempat yang ingin kusinggahi. Setelah sebelumnya angkringan Mas Jo menjadi tempat favoritku untuk istirahat atau sesekali pergi ke puncak Ciumbuleuit sana. Ya, ke tempat kita saat dulu. Namun bedanya, kini aku sendiri. Tak apa, aku sudah biasa. Tak usah cemas.
Tak perlu kau kritisi soal struktur kalimatku yang berantakan ini. Tak perlu juga kau kritisi soal ketidakjelasan tema yang ingin aku tuliskan ini. Aku di sini hanya membual sekaligus belajar karena aku telah lama tidak menulis. Apalagi menulis puisi. Rasanya sudah sangat beku jariku.
Bukan aku tak suka lagi pada puisi. Bukan juga aku tak suka lagi pada buku. Aku masih tetap menyukai keduanya. Namun untuk saat ini, egoku kepada keduanya harus sejenak kuturunkan. Ya, kau tau, aku tak bisa terus menerus menambah pengeluaranku di saat aku belum memiliki pemasukan yang jelas. Ya, kau tahu maksudku itu.
Maaf, aku tak lagi menghubungimu. Bukan karena aku tak suka lagi padamu, tapi ada hal lain yang harus segera kuperbaiki dulu. Bila kau ingin tahu, apa itu yang ingin kuperbaiki dulu, kau boleh tanya padaku. Aku akan menjawab dengan senang hati, seperti dulu.
Aku tak tahu apakah aku akan menghubungimu lagi atau tidak. Aku tak yakin soal itu. Bukan aku tak mau, tapi kadang aku berpikir “untuk apa?” Jangan kau lihat dari sisi negatif, pertanyaanku itu berada di sisi positif.
Ya, aku hanya ingin menulis saja. Tak usah kau pedulikan maksud dari tulisan ini. Bila kau ingin baca sampai selesai, silakan. Tak mau pun tak apa. Aku hanya ingin menulis, bercerita.
Sudah lama aku tak bercerita. Semua cerita hanya aku yang mendengarnya. Tak tahu kepada siapa. Tak ada tempat. Aku pun tak menyalahkan siapa-siapa. Kupikir inilah hidup yang semestinya.
Aku sudah biasa sendiri. Ke mana-mana sendiri. Ya, aku sudah besar. Namun, bila ada yang ingin ikut, tentu aku tidak melarangnya. Aku akan tetap senang. Akan kuceritakan semua hal yang mungkin aku lihat dan belum kuceritakan. Seperti soal malam, lampu jalan, Saparua, hingga Mi Aceh. Semuanya.
Aku tak akan mengajakmu ke kafe-kafe. Bukan karena tak mau, tapi aku tak biasa. Aku lebih nyaman di pinggiran jalan sambil melihat mobil-mobil lewat begitu saja, pikirku, mau ke mana mereka? Sementara ketika aku berada di kafe, pikiranku hanya tertuju pada rumah. Bagaimana mungkin aku mengeluarkan uang 20 hingga 30 ribu hanya untuk membayar segelas minuman saja. Maksudku, aku tidak biasa dengan itu. Bagaimana jika uang itu aku bayarkan untuk keperluan rumah? Minimalnya untuk adik-adikku jajan, begitu. Ya, aku berbeda. Aku tak tahu juga, apakah ini namanya pelit atau apa. Namun, selama kau tak berada di posisiku, kurasa kau tak memahaminya. Bila kau memahaminya, tentu itu hal yang bagus.
Apa lagi? Ah, soal toko buku. Masih seringkah kau pergi ke toko buku? Bila kau tanya aku, mungkin aku masih sering, tapi hanya untuk lihat-lihat saja, melepas rindu pada buku. Soal alasan, aku sudah menjelaskannya tadi.
Lalu, kau tahu? Puisi semakin cantik sekarang. Aku tak tahu kau sekarang masih menyukainya atau tidak? Atau mungkin sekarang kau membencinya? Ya, kau tahu juga alasannya kenapa aku bisa bilang begitu. Bagiku kau tetap perempuan bertubuh puisi.
Kau dan dia sama saja. Dua orang yang istimewa. Sama-sama dipeluk desember dan hari raya. Kau tahu? Aku selalu mendoakannya. Mendoakan yang terbaik baginya. Begitu juga dengan kau, ya, sama saja.
Tidak mungkin aku mengganti judul tulisan ini dengan “Desember” bukan? Judul tulisan ini Malam di Bandung.
Entah panjang atau tidak tulisan ini. Namun yang pasti, seseorang yang tidak suka membaca, tentu tidak akan membaca tulisan ini sampai selesai. BIar saja. Atau kalo tidak begitu, ya mungkin karena kepo. Ya, aku tidak menghukum siapa pun. Masing-masing saja. Aku sedang tidak bicara dengan siapa-siapa. Aku hanya monolog.
Sampai di mana aku bicara? Aku tak tahu apa lagi yang harus kutuliskan. Bila saja ada kau, mungkin kau yang akan mengingatkan dan menjadi jembatan bagiku untuk masuk ke pembahasan yang baru. Ya, andai saja.
Entah ya, aku masih menyimpan nomormu. Meski nomornya tak kuberi nama. Ya, bekasnya masih ada. Tidak kuhapus, tenang saja. Aku hanya ingin tenang.
Entah apa yang ada di pikiranmu. Aku tak tahu. Yang kutahu, aku tidak mengetahui apa-apa soalmu. Tebakanku selalu saja salah. Kau tahu itu, kan?
Harusnya di word tulisan ini bisa sampai lima halaman. Seharusnya. Karena lumayan buat latihan menulis malam. Ya, malam. Lagi-lagi malam.
Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Bila ada yang terlewat kau bisa ingatkan. Entah, kau masih simpan nomorku atau tidak. Namun, nomorku masih sama, tenang saja.
Ya, walau tidak sampai lima halaman. Setidaknya aku sedikit lega.
Aku hanya ingin memberi tahu bahwa Bandung masih sama. Penuh dengan keindahan dan kedamaian. Dan malamnya pun masih sama, penuh dengan kenangan.
Dan, oh iya, entah penting atau tidak, aku masih sering duduk di teras museum atau sekitar keong. Di sore atau malam hari. Di antara Jumat, Sabtu, dan Minggu. Bila kau ingin menemuiku, aku ada di sana. Dan bila kampus mengadakan acara malam di hari ulang tahunnya, mungkin aku juga ada di sana. Seperti dulu, kampus mengadakan wayang, aku ada di sana. Lihat-lihat saja, siapa tau berjumpa.
Sudah, itu saja paling yang ingin kutuliskan. Terima kasih atas semuanya. Semoga kau sehat-sehat di sana ya. Semoga kau selalu dijaga olehNya dan dia. Kau tahu kan? Aku pernah menitipkanmu pada yang sebelumnya. Sekarang pun masih sama. Titipkan pesanku padanya.
Salam
Halo, aku tidak sengaja membaca ini. Apa kabar? semoga selalu baik.
BalasHapusJika salah satu penggalan tulisan ini untukku, terima kasih ya.
Jika kau bertanya aku masih suka puisi atau tidak? Jawabannya masih dan selalu.
Dengan berpuisi aku seperti mensyukuri rasa sepi. Karena ramai, jelas bukan nyawanya lagi.
Jatuh cinta dengan puisi lebih baik daripada jatuh cinta sebelah hati. Setiap kata di dalam puisi selalu punya lengan yang siap mendekap setiap kali rindu meluap-luap.
Puisi seperti sesuatu yang selalu sanggup menampung luka sedalam palung dan merawat perasaan lebih baik dari siapapun. Tidak ada yang tumpah dari puisi kecuali kata-kata yang menyimpan hati penulisnya.
Dengan puisi, seringkali aku lari dari diri sendiri. Melupakan dunia yang akhir-akhir ini kehilangan warna, menikmati hitam putih kata-kata yang sederhana.
Kamu di sana baik-baik ya!
Aku juga biasa melewatkan sore di kampus. Di partere, sekitar museum, lantai 4 fpbs, dll. Semoga selanjutnya bertemu ya!!
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus